Berita > Ortom Muhammadiyah

Pelajar Muhammadiyah Pekanbaru Suarakan Kepedulian Papua melalui Diskusi Film Pesta Babi

Pelajar Muhammadiyah Pekanbaru Suarakan Kepedulian Papua melalui Diskusi Film Pesta Babi

Nobar dan diskusi film Pesta Babi oleh Pelajar Muhammadiyah Pekanbaru

PEKANBARU, Muhammadiyahpekanbaru.id—Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Pekanbaru sukses melaksanakan kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film "Pesta Babi" yang diselenggarakan di SMA Muhammadiyah 1 Pekanbaru Berkemajuan pada Sabtu, (24/05). Kegiatan ini menjadi ruang edukasi, refleksi, sekaligus konsolidasi pelajar Muhammadiyah dalam menyikapi isu lingkungan dan kemanusiaan yang terjadi di tanah Papua, khususnya persoalan deforestasi serta dampaknya terhadap masyarakat adat.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh perwakilan pelajar dari PR IPM se-Kota Pekanbaru dan PC IPM se-Kota Pekanbaru. Acara dipimpin oleh Ketua Panitia, Ipmawati Najwa Khairani, yang bersama jajaran panitia menghadirkan forum diskusi yang kritis, terbuka, dan penuh antusiasme pelajar.

Sejak awal kegiatan, suasana forum berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya menyaksikan film sebagai tontonan, tetapi juga menjadikannya sebagai bahan refleksi terhadap realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Film Pesta Babi dinilai mampu membuka perspektif baru mengenai persoalan eksploitasi alam, ketimpangan pembangunan, dan perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan ruang hidup mereka.

Dalam kegiatan ini, hadir tiga narasumber yang memberikan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Narasumber pertama, Dr. Santoso, S.S., M.Si., selaku Ketua LDK PWM Riau, menyampaikan pentingnya keberpihakan moral pelajar terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan. Ia menegaskan bahwa pelajar tidak boleh apatis terhadap kerusakan alam yang terjadi di Indonesia, termasuk di Papua.

Menurutnya, persoalan lingkungan bukan hanya isu regional, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Ia menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga keseimbangan alam dan nilai kemanusiaan.

“Kerusakan lingkungan bukan sekadar hilangnya pohon atau hutan, tetapi juga hilangnya ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat adat. Pelajar Muhammadiyah harus memiliki kepekaan sosial dan keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran serta keberpihakan kepada mereka yang terdampak,” ujar Dr. Santoso.

Narasumber kedua, Fahmi Salsabila, S.S., M.Si., selaku Sekretaris LHKP PWM Riau, menjelaskan bahwa deforestasi bukan hanya persoalan penebangan hutan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat adat, krisis ekologi, serta ancaman terhadap masa depan generasi muda. Ia mengajak pelajar untuk membangun kesadaran ekologis sejak dini dan aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Fahmi juga menekankan bahwa generasi muda saat ini akan menjadi pihak yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan di masa mendatang apabila tidak ada langkah nyata yang dilakukan sejak sekarang.

“Kesadaran ekologis harus dimulai dari hal-hal kecil dan dibangun menjadi budaya. Pelajar hari ini tidak cukup hanya memahami isu lingkungan secara teori, tetapi juga harus terlibat aktif dalam gerakan pelestarian alam, karena masa depan bumi ada di tangan generasi muda,” jelas Fahmi Salsabila.

Sementara itu, narasumber terakhir, Syahrul Alif Rozaq selaku Ketua Umum PD IPM Pekanbaru, menegaskan bahwa pelajar Muhammadiyah harus hadir sebagai agen perubahan sosial yang kritis dan responsif terhadap persoalan bangsa. Menurutnya, film Pesta Babi menjadi media refleksi untuk melihat realitas yang selama ini jarang dibicarakan di ruang-ruang pelajar.

“Pelajar tidak boleh hanya menjadi penonton atas kerusakan lingkungan dan ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Melalui forum seperti ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa pelajar memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara, berdiskusi, dan bergerak,” ujar Syahrul Alif Rozaq dalam sesi diskusi.

Kegiatan nobar dan diskusi ini berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan kritis dari peserta terkait isu eksploitasi sumber daya alam, keberpihakan negara terhadap masyarakat adat, hingga peran generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan. Beberapa peserta juga menyampaikan harapan agar ruang-ruang diskusi seperti ini terus dihidupkan sebagai bagian dari tradisi intelektual pelajar Muhammadiyah.

Melalui kegiatan ini, Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kota Pekanbaru berharap lahirnya kesadaran kolektif di kalangan pelajar untuk lebih peduli terhadap isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan, serta menjadikan diskusi sebagai budaya intelektual dalam gerakan pelajar Muhammadiyah. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal lahirnya gerakan pelajar yang lebih aktif, kritis, dan berorientasi pada kebermanfaatan sosial bagi masyarakat luas.